Buletin AL-HIKAM

Desember 24, 2008

RESENSI

Filed under: Uncategorized — ikhwahtx @ 4:44 am

Waktu merupakan salah satu dari beberapa yang sangat berharga. Tanpa waktu manusia tidak akan mampu berdaya menjalani kehidupan. Dan tiap diri manusia telah dibekali waktu sebagai modal untuk mencari keuntungan dunia atau sebaliknya mencari kehancuran dirinya di dunia.
Waktu itu adalah modal utama kita dalam menjalani kehidupan diatas muka bumi ini, bukankah aktivitas kita mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur itu memerlukan waktu. Tanpa waktu kita tidak mengkin bias beribadah kepada Allah tanpa waktu dan kesempatan.
Entah siapa yang memberi nama jika, 1 menit = 60 detik, 1 jam = 60 menit, 1 hari = 24 jam, 1 minggu = 7 hari, 1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan, 1 abad = 100 tahun dan seterusnya, semua itu disebut waktu.
Didalam buku ini Ust. Ichsan mengajak umat Islam untuk sadar akan pentingnya memanajemen waktu. Ketergantungan umat Islam kepada umat lain dapat terlihat di dalam fenomena masyarakat Indonesia yang saat ini mencerminkan adanya ketidakperdulian waktu.
Ada beberapa hal yang menarik untuk di simak didalam buku berharga ini. Yaitu perihal suatu kajian yang menyatakan bahwa massa produktif kita umat Islam pada umumnya masih sangat rendah, yaitu dalam sehari hanya setengah jam, sementara di Negara-negara maju rata-rata masa produktif mereka dalam sehari mencapai 7 jam. Jika kajian ini benar, berarti kita umat Islam masih banyak main-main dalam menjalani kehidupan ini. Banyak waktu yang kita buang sia-sia sehingga tiada sebarang maslahat dan keuntungan duniawi kita peroleh. Sementara orang lain tekun bekerja demi maslahat dan kepentingan mereka di dunia ini. Akibatnya, kita terus-menerus menjadi umat follower alias pengekor kepada orang lain. Kita hanya pandai mengagumi dan suka memakai produk mereka serta yang lebih parah lagi, kita suka meniru gaya hidup mereka. Dan dalam banyak hal, nasib kita banyak bergantung kepada kebijaksanaan, kemurahan hati, dan belas kasihan mereka.
Ketika kita masih berebut dalam menetukkan bulan. Orang-orang barat telah berhasil mengijak-ngijak bulan. Takkala kita masih asyik bersendagurau menemukan perbincangan hangat, orang-orang barat telah menjadi Negara Adi Kuasa dan menemukan berbagai macam penemuan dan membongkar rahasia alam dunia ini. Lantas bagaimana dengan kita ?
Menurut Ust. Ichsan buku ini banyak diilhami dari buku karangan Dr. Yusuf Al-Qordhawi dan buku karangan Jasim Muhammad Badr Al-Muthowwi tentang waktu.
Di buku ini diulas tentang cirri-ciri wakt, salah satunya yaitu waktu yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi, maka penting bagi umat Islam bahwa waktu itu merupakan modal yang telah diberikan kepada Allah SWT.
Untuk menjadi umat yang unggul, kita harus tahu kegunaan waktu itu untuk apa?memang kewajiban seorang Muslim adalah beribadah kepada Allah SWT, namun jangan dikesampingkan urusan dunia. Alangkah baiknya seimbang dan saling melengkapi. Jangan samapai penekanan hanya pada salah satu dari dua unsur tersebut, maka yang terjadi adalah kelebihan takaran (overdosis), beberapa hal yang dapat memberikan kita motivasi, yaitu : Muhadasah diri, mengetahui pentingnya waktu, zuhud di dunia, ingat mati, takut kepada Allah SWT, memperbaiki program, mendidik diri mempunyai kemampuan kuat, mengatahui cara orang-orang shaleh memanfaatkan waktu mereka, dan bergaul dengan orang-orang yang disiplin. Selain motifasi kita juga perlu mencermati hal-hal yang menjadi musuh dalam pengelolaan waktu. Adapun hal tersebut adalah Al-Ghaflah (lalai), Ittibaa’ul Hawa (mengikuti hawa nafsu), Thulul Awal Wat Taswiif (panjang angan-angan), Al-Baittaalah (pengangarun), dan Al-Faraagh’ (waktu kosong atau waktu luang).
Semakin ikhlas amal ibadah kita dan semakin bermanfaat perbuatan kita serta lebih professional dalam bekerja bagi orang-orang lain, maka semakin berkualiatas umur kita itu. Nah sobat bagaimana dengan diri kita? Tunggu apalagi buruan refolusi manajemen waktu kita.
JUDUL BUKU : TIBA WAKTUMU MANGATUR WAKTU
PENULIS : Dr. H. Muchammad Ichsan, Lc, NA.
PENERBIT : Ichsani Media
CETAKAN PERTAMA : Mei 2008
TEBAL : 116 Halaman
Resentator : Sukmanto Dibyo

Munajat

Filed under: Puisi — ikhwahtx @ 4:40 am

Aku tertegun dalam sepi
Mencoba nenyibak tabir keheningan insani
Aku terpuruk dalam ketiadaan
Akalku terhempas oleh badai keterbatasan
Jiwaku teronggok dalam puing-puing kehinaan
Hanya munajat yang dapat ku lantunkan
Menetes pelan bersama rinai hujan
Membasahi kalbuku yang kering kerontang
Luluhkan angkara dan kesombongan

Ku ingin sejenak bersimpuh
Hanyut luruh dalam penyesalan panjangku
Bersujud kehadiratMu yang Agung
Memohon limpahan MaghfirohMu
Mengharap anugerah cinta dariMu

Menanti belaian Kasih abadi dalam naungan surgawi

By: Sayap Pelangi

MENUNGGU

Filed under: Puisi — ikhwahtx @ 4:37 am

Di suata tempat…..
Entah di mana, di dunia
Seseorang menunggumu
Berdoa….!
Seperti doa yang biasa engkau ucapkan

Pada suata saat….
Entah apabila, di dunia
Seseorang merindukanmu
Berjaga-jaga….
Seperti malam-malam mu yang berlalu
Sangat lambat
Di sepertiga malam akhir
Seseorang menunggumu
Merindu, berjaga dan berdoa

Di suatu tempat,
Pada setiap,
Seperti engkau
Selalu….

Oleh: Nina Ristanti

Lubang Hitam Mahasiswa

Filed under: Opini — ikhwahtx @ 4:33 am

Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda telah tercoreng dengan berbagai aksi tawuran dan tindak kekerasan sesama mereka yang marak terjadi.
Budaya kekerasan di Indonesia saat ini cukup meningkat, Fenomena banyaknya aksi tawuran yang dilakukan kalangan pelajar dan mahasiswa, memang mencoreng dunia pendidikan kita. Apalagi orang memandang mahasiswa sebagai kelompok terdidik dan intelektual muda yang akan menjadi penerus kepemimpinan bangsa. Sebelumnya aksi tawuran cukup melekat di kalangan pelajar, namun sekarang justru terjadi di lingkungan kampus. Sampai bulan November 2008, tawuran skala besar antar mahasiswa di Sulawesi Selatan setidaknya terjadi sebanyak empat kali di universitas andalan daerah ini yakni di Universitas Negeri Makasar (UNM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas 45 dan terakhir di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ini belum termasuk tawuran-tawuran kecil yang terjadi di kampus-kampus daerah lainnya.
Kalau memang aksi tawuran sebagai bentuk solidaritas, itu kurang tepat. Bukan perbuatan terpuji jika kita melakukan tindakan yang merugikan orang lain, apalagi sampai menyebabkan orang lain terluka. Belum lagi bangunan kampus yang rusak akibat menjadi sasaran kemarahan mahasiswa.
Fenomena negatif tersebut dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain:
1. Terlalu banyaknya waktu lowong mahasiswa yang tidak tergunakan secara positif dalam jadwal akademik. Hal ini harus ditangani secara serius oleh pihak kampus dengan memberikan penekanan kepada mahasiswa untuk memaksimalkan kegiatan-kegiatan di lembaga intra maupun ekstra kampus.
2. Kurangnya tatap muka antara mahasiswa dengan tenaga pendidiknya. Sebaiknya mahasiswa dan dosen mesti memiliki sikap keharmonisan. Tidak apa-apa dosen memanggil mahasiswa yang bersangkutan untuk berdialog tentang permasalahan apa yang dihadapi. Sudah semestinya dosen menjadi bapak bagi mahasiswa agar mahasiswa merasa nyaman untuk menyampaikan keluh kesahnya. Ini akan menghilangkan stress pada diri mahasiswa dan menghindarkan mereka dari tawuran.
3. Pola pendidikan yang diterapkan pada Perguruan Tinggi yang bersangkutan hanya mengandalkan keuntungan dari finansial, akan tetapi tidak memperhatikan moral mahasiswa. Yang penting mahasiswa bersedia membayar uang masuk, secara otomatis diterima. Hal ini banyak terjadi di perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Seleksi masuk perguruan tinggi dengan tes adalah sebagai formalitas saja, tetapi pada akhirnya semua bisa diterima.
4. Ketidak tegasan birokrasi kampus dalam menjalankan etika-etika yang berlaku di kampus tersebut. Tidak dipungkiri bahwa setiap Perguruan Tinggi memiliki peraturan yang diberlakukan dalam menjalankan proses pendidikan di dalamnya. Namun banyak fakta mengatakan bahwa peraturan tersebut tidak dikawal maupun diterapkan oleh birokrasi. Lalu, untuk apa diadakan semua itu. Ini merupakan ketidak berdayaan birokrasi untuk bersikap tegas komitmen menjaga etika-etika kampus.
Sudah sepatutnya kini wadah-wadah yang menghimpun mahasiswa harus bisa kembali kepada misi yang mereka bawa dengan mengedepankan moral dan intelektual untuk berbuat lebih banyak lagi dalam membangun bangsa ini. Allahu A’lam.

Oleh: Nurkholis Asy’ari (Kakom KAMMI Walisongo)

Menyembelih Hewan Qurban: Menghilangkan Sifat Kebinatangan

Filed under: Hikmah — ikhwahtx @ 4:31 am

Idul ‘Adha kembali hadir di tengah-tengah kita. Idul Adha memiliki hikmah dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama yang substansial. Idul ‘Adha merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam.
Saat masih berada dalam rangkaian hari-hari tasyrik juga masih ada berkesempatan menyembelih hewan qurban, mengumandangkan takbir, dan dilarang menjalankan shaum. Dengan kata lain, nuansa Idul Adha masih kental menyelimuti keseharian kita. Semoga, di balik itu semua, ada satu hal penting yang harus kita internalisasikan dalam diri. Yaitu, bagaimana nuansa Idul ‘Adha yang hanya lima hari (9 s.d 13 Dzulhijjah) bisa menjiwai nuansa keseharian kita? Untuk menjawab hal ini, kita bisa menelaah kembali hikmah dari Idul Adha ini.
Banyak hikmah yang bisa diambil dari momentum Idul Adha ini. Berikut adalah beberapa makna tersirat dari momentum Idul ‘Adha yang merupakan hasil perenungan penulis sendiri:
1. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, ada satu pelajaran penting untuk direnungkan. Ketika hewan qurban disembelih berarti menyembelih pula sifat-sifat kebinatangan yang ada padanya. Di sinilah hikmah penting bagi kita, di mana kita pun harus segera menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita. Banyak manusia yang telah jatuh derajatnya menjadi “binatang”, sebab sifat-sifat bahimiyyah (kebinatangan) telah melingkupi perangai dan perilakunya. Sebagai makhluk yang terhormat tentu kita tidak ingin derajat kita jatuh menjadi binatang. Untuk itu sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita, seperti sifat rakus, serakah, pelit, mau menang sendiri, sombong dan lain sebagainya harus segera kita “sembelih” dari diri kita. Inilah salah satu makna tersirat dari ibadah qurban yang jarang kita pahami.
2. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, kita juga menyaksikan bagaimana darah hewan qurban kita membasahi bumi ini. Di sana ada satu hikmah besar yang bisa jadikan pelajaran. Bila saat ini yang dikurbankan untuk Allah adalah darah hewan qurban kita, suatu saat jika dibutuhkan kan kita juga harus siap mengorbankan darah dan jiwa kita untuk Allah SWT. Inilah bentuk pengorbanan terbesar yang harus berani kita tunjukkan kepada Allah sebagai bukti keimanan kita, sebagaimana yang telah didemonstrasikan pula oleh Nabiyullah Ibrahim a.s dan keluarganya. Allah pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan manusia dalam merespons pesan dan perintah Ilahi dan kesediaannya untuk tidak dikungkung kediriannya yang subyektif, atau impuls-impuls kejahatan yang menipu. Persembahan sekadar suatu simbol yang melambangkan makna yang lebih substansial, yaitu ungkapan ketaatan untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang sejatinya selalu bersesuaian dengan nilai kemanusiaan perenial.
3. Salah satu hikmah mengapa Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba adalah bahwa Allah tidak mau manusia dijadikan kurban. Allah menjadikan hewan sebagai kurban. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mulia di sisi-Nya. Maka sungguh aneh kalau di zaman sekarang ada orang yang dengan mudahnya mengorbankan sesama manusia demi mengejar kepentingan pribadinya. Dan tersirat pula pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya. Secara historis pun ada pelajaran penting yang bisa kita renungkan. Pada masa Nabi Ibrahim a.s hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksanakan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, manusia harus dihormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.
4. Salah satu hikmah terpenting dari momentum Idul ‘Adha yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bangsa saat ini, yaitu semangat dan keikhlasan untuk berkorban. Semangat untuk berkorban dengan tanpa pamrih pada dasarnya akan menumbuhkan solidaritas sosial masyarakat. Apalagi saat ini kita menyaksikan betapa bangsa dan negara kita tengah dilanda oleh berbagai fenomena musibah dan bencana alam yang teramat dahsyat. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, lumpur panas, dan kebakaran terjadi di mana-mana. Gelombang bencana ini telah memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan masyarakat. Fasilitas-fasilitas kehidupan pun mengalami kerusakan yang teramat parah. Jalan-jalan banyak yang rusak, rumah-rumah banyak yang terendam, harta benda lainnya banyak tidak dapat berfungsi seperti sediakala, akibat tidak dapat diselamatkan. Bencana ini pun menimbulkan trauma psikologis bagi warga masyarakat. Masyarakat menjadi panik, gelisah, dan khawatir jika bencana itu datang lagi. Semangat berkurban harus tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Semangat berkurban terutama harus ditunjukkan oleh para pemimpin dan kaum elit negeri ini. Tidak hanya rakyat yang diminta untuk berkurban, tetapi para pemimpin harus memberikan contoh. Tidak berkhianat terhadap amanah jabatan yang diembannya merupakan salah satu contoh pengorbanan yang dilakukan. Karena pengkhianatan terhadap amanah, hanya akan membawa bangsa ini pada kehancuran. Seseorang yang mengkhianati amanahnya biasanya memiliki sifat rakus dan tamak. Watak rakus dan tamak ini akan menempatkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain. Segala macam cara akan dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jabatan dan kedudukan yang dianggapnya akan memperkaya dan menguntungkan diri dan kelompoknya. Jabatan akan dipertahankannya walaupun secara etika dan moral sudah tidak layak disandangnya, karena banyak anggota masyarakat yang menolak kepemimpinannya.
5. Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s, dua manusia terbaik yang ada di bumi telah berhasil mengangkat nilai martabat manusia pada kedudukan yang sesungguhnya, penghambaan secara total kepada Sang Khaliq. Ibrahim a.s menyerahkan putranya untuk disembelih dihadapan Allah, sebuah penggambaran totalitas ketertundukan seorang manusia kepada Tuhannya. Melalui Nabi Ibrahim, manusia telah melihat sebuah nilai pengorbanan yang bersih dari nilai-nilai kesombongan, keangkuhan, dan kesemuanya hanya tertunduk patuh pada-Nya. Kerelaan Nabi Ismail a.s untuk disembelih merupakan perwujudan cinta kasih yang sangat luar biasa kepada sang ayah atas nama Tuhan. Ketika pengorbanan diminta, tak ada perdebatan, tak ada keberatan, tak ada penolakan sedikitpun, inilah manusia yang mulia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu nafsu yang selalu mengajak untuk cinta dunia secara mutlak.
Demikianlah beberapa hikmah Idul ’Adha yang merupakan hasil renungan penulis, mudah-mudahan kita bisa selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa penting yang kita lalui dalam hidup ini guna meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya. Amiin.

Oleh:Ella Purwaningsih

Menumbuhhkan Esensi Qurban Pribadi dan Masyarakat

Filed under: Wawancara — ikhwahtx @ 4:24 am

Wawan cara dengan Ust. Nasiruddin, M.Ag:
Allahu Akbar walillahilhamd. Gema bedug kembali bertalu-talu menyambut Hari Raya umat Islam yaitu hari Raya Idul ‘Adha, atau yang sering disebut sebagai Hari Raya Qurban. Pada hari yang agung tersbut semua umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban. Hukum penyembelihan tersebut adalah sunnah muakkad, seperti halnya Nabi Ibrahim a.s. telah diperintahkan Allah untuk menyembelih putra tercintanya Nabi Ismail a.s dan akhirnya terjadi keajaiban yang luar biasa sehingga Ismail diganti oleh Allah dengan seekor domba yang diambil dari surga dan yang disembelih adalah domba yang gemuk itu, subhanallah.. Ini adalah awal sejarah dari perintah Qurban itu sendiri, Hari kamis tepatnya 12.30 WIB Tim Al-Hikam menemui Bpk. Nasyirudin, M.Ag untuk berbincamg-bincang seputar esensi qurban tersebut. Beliau adalah seorang ustadz yang mengajar sebagai dosen di Fakulta.s Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Beliau adalah seorang ustadz yang tekun dalam berdakwah yang juga simpatik pada agenda-agenda yang dilakukan oleh KAMMI terutama komisariat IAIN Walisongo.
Berikut adalah petikan wawancara singkat Redaksi Al-Hikam dengan beliau tentang esensi yang terkandung dalam Hari Raya Qurban.
Apa esensi Qurban menurut Bapak?
Menurut saya Esensi ibadah Qurban adalah sebuah bentuk ketaatan terhadap perintah Allah SAW baik yang disukai ataupun tidak disukai, dan kalau kita melaksanakan sesuatu berarti kita berqurban. Contoh : kita diperintahkan untuk sholat kemudian kita melaksanakan sholat tersebut, dalam hal ini kita sudah berqurban waktu, tenaga dan lain sebagainya, semua itu dari Allah dan untuk Allah.
Apakah dalam masyarakat kita dalam menyembelih hewan qurban sudah sesuai dengan esensi qurban itu sendiri?
Saya melihat ada beberapa yang kurang pas di masyarakat kita tentang qurban, misalnya menurut syari’at orang yang berqurban sebenarnya boleh untuk mengambil 1/3-nya dari hewan yang disembelih tersebut. Berqurban juga sebenarnya tidak boleh menjual dari bagian hewan sesembelihan tersebut baik kepala, kulit atau bagian yang lain. Akan tetapi selama ini masyrakat kita tidak tahu tentang hal itu. Dan sebenarnya qurban itu untuk orang yang hidup saja bukan untuk orang mati kecuali berwasiat.
Ada juga kesalahpahaman di masyarakat, misalnya tentang anjuran hewan qurban yang akan disembelih sebelumnya senangkanlah hewan itu, kemudian anjuran itu disalah artikan biasanya dimandikan, dikasih pakaian dan yang lain yang seharusnya adalah diberi makanan semisal rumput yang segar. Hal-hal tersebut merupakan beberapa kesalahan yang terjadi di masyarakat kita.
Apa sebenarnya hikmah dari ibadah qurban menurut Bapak?
Hikmahnya ada dua hikmah, untuk diri sendiri dan hikmah untuk orang lain. Hikmah diri sendiri di antaranya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, menghilangkan sifat kikir atau bakhil. Sedangkan hikmah secara sosial itu kita peduli atau menumbuhkan kepedulian sosial.
Manfaat apa saja yang bisa diambil dari ibadah qurban bagi umat?
Manfaatnya adalah memberikan contoh kepada umat agar kita bisa mengikis sifat-sifat egoisme dan juga memberi contoh akan pentingnya sikap atau kepedulian sosial, di samping itu juga untuk bukti ketaatan kita pada Allah, sebenarnya menyembelih itu hanyalah sebuah simbol yang lebih substansi adalah mengorbankan yang kita miliki sebagai wujud ketaatan kita pada Allah. (Ismaturrahman & Ahmad Munib)

MELIHAT ESENSI QURBAN

Filed under: Kajian Utama — ikhwahtx @ 4:05 am

Berbicara mengenai Idul Adha 10 Dzullhijah, maka perpektif setiap umat Islam di seluruh dunia adalah Hari Raya Qurban. Di dalam ritual hari raya qurban, biasanya umat Islam menyerahkan hewan yang akan di qurbankan ke masjid atau musholla terdekat. Lalu akan dilakukan proses penyembelihan setelah Sholat Ied. Setelah itu dengan dikuluti dan di bagi-bagikan kepada warga yang membutuhkan. Namun sejauh itu saddarkah kita apa makna yang terkandung dari sebuah ritual hari raya qurban ? dan pernahkah kita melihat lebih jauh esensi dari sebuah qurban.
Melihat hal itu seharusnya kita malu sebagai umat Islam. Ritual yang setiap tahun kita lakukan tidak memilki efek khusus dalam kejiwaan kita. Bukankah seharusnya sebuah ritual dalam dien ini yang tidak ada hakikat didalam pelaksanaannya. Begitu pula ritual penyembilhan hewan qurban.
Riwayat nasabnya qurban pada dasarnya berasal dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Bahkan kisah populer yang memilki pelajaran besar bagi kejiwaan seorang insan diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Dalam ilmu Tasawuf kisah ini mengajarkan tentang Mahabbatullah (Kecintaan pada Allah).
Ibrahim a.s adalah salah satu Rasul-Nya yang merupakan teladan bagi umatnya. Ia seorang nabi yang begitu sabar, ikhlas, dan selalu tawakkal kepada Allah. Hal ini terwujud dalam kehidupanya. Diusia yang tua renta ia belum di karunia seorang keturunan, namun hal itu tidak mengurangi cantanya kepada Allah. Beliau selalu iktiar dan berdo’a pada-Nya tanpa pernah mengeluh. Hingga suatu hari Allah mengabulkan do’anya dengan memberinya keturunan (baca : Ismail). Beliau pun merasakan kebahagian sebagai seorang suami dari Siti Hajar yang kini berstatus Ayah. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Dalam sebuah mimpi Allah kembali memberi ujian padanya. Sebuah ujian yang berat dan tidak lazim bagi seorang Ayah seperti dirinya. Beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri, yakni Ismail a.s yang saat itu berusia 10 tahun. Lantas apa ia akan mengikari-Nya ?
Nabi Ibrahim yakin betapun beratnya perintah itu baginya, ia coba melakukannya dengan sabar, ikhlas, dan tawakkal. Saat beliau coba menanyakan perintahnya itu kepada putranya Ismail, putranya pun tidak menolak. Bahkan putranya yang sangat di cintainya tersebut yakin bahwa adapun perintah Allah SWT, maka itu wajib dilaksanakan bagi seorang insan Pilihannya (baca : Ibrahim a.s). walaupun pada akhirnya, kitika Nabi Ibrahim a.s akan melaksankan perintah-Nya, justru datang sosok Malaikat yang menggantikan Ismail a.s dengan seekor domba dari Syurga. Dari kisah itulah yang kemudian menjadi dari kiblat ritual hari raya Qurban. Dan sebenarnya itu semua adalah Skenario yang Maha Akbar.
Sebuah ritual penyembelihan Qurban yang kita lakukan hampir tiap tahun, ternyata memiliki latar belakang yang luar biasa. Namun sebagai umat Islam yang memiliki sejarah dibaliknya justru banyak yang kurang menyadarinya.
Jika kita coba me-review kisah panjang Ibrahim a.s dan putranya Ismail. a.s, disana akan ditemukan Esensi dari Qurban itu sendiri sebuah langkah yang pada akhirnya bermuara pada Mahabbatullah.
Didalam buku-buku Tasawuf kita akan memjumpai bahwa Mahabbatullah adalah tujuan dari segalanya. Namun perjalanan untuk menuju tujuan akhir. Itulah yang perlu kita soroti. Ada beberapa hal yang tak boleh di singkirkan begitu saja yakni jalan yang ditempuh.
Kita akan dikenalkan Syari’at, tarekat, ma’rifat serta hakikat dalam sepanjang perjalanan menuju Mahababtullah. Syarat-syarat, aturan main, dan cara pelaksanaan akan dikemukakan dalam syari’at, sedangkan implemenasi dan pelaksanaannya sendiri kita temukan dalam terekat, mengenal amalan tersebut akan diketahui dalam ma’rifat dan makna dar melakukan amalan tersenut dijelaskan dalam hakikat. Barulah serangkai itu dikerucutkan menjadi Mahabbatullah.
Berbicara mengenai serangkaian rumus Mahabbatulla tersebut pada dasarnya juga bukan merupakan hal yang terpisah, malainkan serangkain yang tidak bisa disendirikan (baca : dipecah belah). Untuk melakukan Syari’at perlu tarekat. Didalam terekat harus ada ma’rifat. Saat memiliki ma’rifat maka harus tahu hakikat. Ibarat sebuah rantai yang saling terkait untuk menuju kesempurnaan.
Begitu pula saat kita berbicara mengenai ritual hari raya Qurban dan hari raya Qurban itu sendiri. Tiada tujuan tanpa sebuah alasan mengapa hadist sebuah ritual Qurban dan Idul Adha tersebut ditengah-tengah ajaran Islam. Ada sebuah pembelajaran besar yang patut kita renungkan dan kita implementasikan.
Seperti yang telah saya singgung diawal tadi, didalam kisah Nabi Ibrahim a.s dan putranya Nabi Ismail a.s. Di dalam kisah tersebut tersimpan risalah yang ingin disampaikan pada umat Islam pada umumnya, sehingga melahirkan ritual Qurban pada zaman sekarang. Disana terdapat beberapa pelajaran, yakni sabar, ikhlas, taat, pantang menyerah dan yang peling utama ialah Tawakkalilallah.
Saat Ibrahim a.s sekian puluh tahun tidak dikarunia seorang anak, namun Beliau tidak pernah mengeluh. Justru semakin menambah cintanya kepada Sang Maha Rahim. Maka, disana terdapat makna kesabaran sejati dan keikhlasan.
Kemudian ketika beliau telah diberi keturunan seorang putra, yakni Ismail a.s hal itu pun tidak pula mengurangi rasa cintanya kepada Dzat pemilik cinta. Disana terdapat sebuah pelajaran tentang makna taat dan kepatuhan. Lalu saat datang perintah berat untuk menyembelih putranya Ismail a.s, beliau juga tidak protes, justru ketaatannya yang diuji tersebut tetap ditunjukkan pada Sang Pemilik Jagad Raya. Disana terdapat makna keikhlasan. Dan ketika putranya Ismail a.s pun tidak menolak saat pertanyaaan mengenai perintah Allah SWT tersbut diajukan kepadanya, justru beliau menyanggupiya dengan seganap hati. Disana terdapat makna ikhlas dan tawakkal. Dan serangkain itulah yang penulis maksud sebagai ritual dalam perjalanan menuju kesempurnaan.
Sabar, ikhlas, taat, dan tawakkal itulah perwujudan dari sebuha ajaran tentang syariat, tarekat, ma’rifat, dan hakikat. Dan manifestasi yang bisa didapatkan adalah Mahabatullah. Disinilah sebenarnya Esensi dari Qurban itu sendiri. Kita sengaja ditunjukkan oleh-Nya banyak pelajaran menuju kecintaan tak terbatas pada Dzat Maha Abadi. Kita diajarkan untuk memilki rasa sabar dalam menghadapi kerasnya kehidupan dizaman ini. Kita diajarkan untuk Ikhlas dalam setiap sela-sela ujian hidup. Kita ajarkan untuk tetap taat dalam mewujudkan setiap perbuatan kita tanpa menafikan ego kita. Dan kita diajarkan untuk terus bertawakkal sebagai pelindung dan hujjah terkuat dalam gunjangan badai kehidupan. Namun pelajaran paling berharga yakni makna qur’ban sendiri. Yakni bisa saling berbagi, saling mengerti orang lain, saling mengkuatkan ukhuwah islamiyah.
Semoga qur’ban kita ditahun ini bukan lagi menjadi sekedar ritual yang dilakukan tiap tahun, atau menjadi agenda wajib tiap musholla ataupun masjid-masjid sisekitar kita.
Melainkan kita bisa melihat lebih dalam esensi qur’ban, yang dirunut dari kisah Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as.

Re-Eksistensi KAMMI Sebagai Gerakan Dakwah

Filed under: Opini — ikhwahtx @ 4:02 am

Eksistensi sebuah gerakan dapat dilihat dari kuantitas keberadaannya di sebuah ruang pada waktu tertentu baik berupa jumlah anggota maupun aktivitas kegiatannya. Bagaimana mungkin sebuaha gerakan dikatan ada jika orang-orang yang menekuni kegiatan tersebut tidak eksis sebagai pemilik gerakan atau barangkali aktivitas yang dilakukan tidak bergerak dan memberikan nilai apa-apa bagi sekelilingnya. Sehinnga untuk menunjukkan eksistensi tersebut harus dapat dibuktikan keberadaan kuantitas anggota dan kegiatannya untuk beraktivitas sebagai sebuah action dalam kehidupan sehari hari sesuai dengan program-progam yang telah direncanakan.
Untuk itu perlu kiranya ada kita berefleksi sejenak sebagai anggota sekaligus kader pada tubuh organisasi yang kita bawa yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). KAMMI sebagai sebuah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam visi KAMMI. Hal ini bisa diwujudkan dengan merealisasikan misi-misi secara massif dalam setiap agenda kegiatan. Baik dalam hubungannya dengan sesama kader maupun dengan lembaga lain sebagai masyarkat dan yang paling utama dalam hubungannya dengan Allah SWT. Sehingga KAMMI dapat dikatakan eksis di masyarakat sebaga sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dan di kampus sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan.
Secara umum KAMMI cukup bisa dikataan ada di Indonesia bahkan di dunia karena keberadaan komisariat yang tidak hanya di Indonesia seperti Inggris atau Jepang. Keberadaan yang sudah tersetruktur rapi sebagai sebuah lembaga. Kegiatan yang dilakukan juga telah memberikan pengaruh dan kontribusi yang banyak terhadap pemecahan problematika umat dan bangsa baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Contoh kecil yang bisa dilihat antara lain bhakti sosial sebagai sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakt, membangun desa-desa binaan, melakukan pembinaan-pembinaan kepada mayarakat. Secara politik juga selalu aktif dalam merespon kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daik di pemerintah pusat maupun di pemeritah daerah dilakuka baik secara aksi maupun diplomasi.
Sebagai sebuah kesatuan “Umat Islam”, KAMMI pun sudah memberikan respon terhadap ketidakadilan yang dan kekejaman terjadi di negeri-negeri muslim yang lain di dunia. Kekejaman yang dilakukan oleh negara-negara kolanialis diperjuangkan dengan berbagai kegiatan baik yang dilakukan dengan doa bersama, berunjuk rasa, atau dengan melakukan pengumpulan dana sebagai sebuah aksi solidaritas. Karena Islam memang tidak seharusnya dikotak-kotak dengan batas-batas terotorial sebuah negara. Pembatasan tang terjadi hanya akan memecah umat dan saling berperang untuk kepentingan negara masing-masing.
Namun yang lebih penting adalah sejauh mana keeksistensian KAMMI di komisariat yang ada pada setiap kampus. Komisariat sebagai struktur paling bawah sebagai ujung tombak organisasi, haruslah mampu memiliki bargaining yang tinggi sehingga bisa dipandang sebagai organisasi yang eksis. Hal ini akan bisa tercapai sesuai dengan ruh perjuangan Paradigma Gerakan KAMMI. Paradigma yang terbentuk atas semangat gerakan yang sudah terbentuk dan melekat pada ruh perjuangan setiap kader KAMMI. Paradigma gerakan baik sebagai gerakan tauhid, geraakan intelektual profetik, sebagai gerakan sosial independent,atau sebagai gerakan politik ekstra parlementer yang terinspirasi dari ajaran Islam yang transendental sebagai agama langit.
Idealisme haruslah tertanam kuat pada diri setiap kader KAMMI sehingga dapat melakukan perbaikan untuk melakukan pemecahan atas problematika umat di muka bumi dengan dasar Islam sebagai rahmat bagi seluruh ‘alam (rahmatan lil’alamin). Kredo gerakan sebisa mungkin dapat tertanamkan dengan kuat pada diri setiap kader. Dengan itu setiap kader akan selalu termotivasi untuk bergerak capat dan tepat. Karena kader KAMMI adalah orang-orang yang berpikir dan berkehendak merdeka atas dasar keikhlasan; kader KAMMI adalah orang-orang pemberani yang hanya takut pada Allah; kader KAMMI adalah petarung sejati yang bertempur atas nama al-haq sehingga tidak ada fitnah; kader KAMMI adalah penghitung risiko yang cermat yang dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasihati dalan kebenaran dan kesabaran; senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam yang tidak suka berleha-leha, minimalis dan loyo; ilmuan yang tajam analisisnya yang piawai dalam memperjuangkan kepantingan umat sebagai pejuang di siang hari dan rahib di malam hari.
Kader adalah hamba Allah yang menyembahnya sesuai dengan syari’at yang Ia wahyukan melalui rasul-rasul-Nya yang mulia. Kaeder adalah kholifah Allah yang dengan seluruh kemampuannya senantiasa menegakkan keadilan dan menebarkan kesejahteraan. Kader adalah makhluk Allah yang membutuhkan rasa kesepahaman antar sesama manusia dan menjalin persaudaraan antar sesama kaum muslimin. Jati diri inilah yang seharusnya tertanam pada diri kader sehangga benar-benar menunjukkan eksistensi KAMMI dalam sebagai manusia yang bisa melakukan perbaikan atas pronlematika umat dalam perwujudannya untuk menjadikan KAMMI sebagai gerakan yang “eksis” bukan sebagai gerakan yang “ada”.

Desember 20, 2008

PIL PAHIT [KRISIS GLOBAL] DI INDONESIA

Filed under: Laporan Khusus — ikhwahtx @ 3:02 pm
Agus QA

Agus QA

Ancaman kemungkinan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran pada perusahaan atau industri di Indonesia, akibat terjadinya krisis global yang melanda seluruh negara maju, terutama Amerika Serikat nampaknya disadari betul oleh pemerintah. Karena, dikhawatirkan krisis finansial global ini akan mengakibatkan terjadinya pengurangan bahkan penghentian impor dari Indonesia oleh negara-negara maju, terutama Amerika Serikat. Dampaknya perusahaan mulai awal tahun depan akan mengurangi karyawannya, karena order sepi.

“Selayang pandang”Kemunculan Krisis Global

Kemunculan krisis global secara umum sudah bisa ditebak oleh penduduk dunia. siapa dalang yang memicu terjadinya inflasi besar-besaran terhadap ekonomi dunia global, pastinya kita sudah tahu yaitu AS sebagai negara yang menyatakan dirinya adikuasa pada era abad perang dunia I, II sampai sekarang. Namun nyatanya sangat ironis ketika Negara tersebut yang terpukul pertama kali akibat dampak krisis global. Apa mau dikata Negara tersebut bak senjata makan tuan yang terkena ranjau buatan mereka sendiri. Akibat ulah mereka sendiri yang gegabah menebar virus “perangi teroris” dengan aksi koboinya yang arogan menginvasi Negara-negara muslim yang terbukti nihil akan adanya bahaya teroris (sebut saja: Irak, Afghanistan, dan lain sebagainya). Justru dari hal itulah yang telah menjadi balasan dirinya sendiri sebagai Negara predikat paling teroris sedunia yang layak disandang. Karena dampak dari krisis global ini bukan hanya merugikan satu pihak “Amerika” saja namun meneror hampir merata bagi seluruh penduduk dunia.

Dari dampak krisis global yang disebarkan Amerika dan dunia Eropa ternyata arusnya mengalir ke wilayah Asia, tidak terkecuali Indonesia. Awalnya, krisis hanya berpengaruh secara signifikan pada pasar saham dan kurs mata uang eropa saja, kondisi fluktuasi yang labil terus menerus sampai pada posisi resesi ini berakibat terjadinya inflasi besar-besaran pada kurs mata uang Eropa dan beberapa saham perusahan dan perindustrian di dunia Eropa. Namun disadari atau tidak imbas krisis global tersebut juga menganggu stabilitas perekonomian nasional kita.

Secara jelas Pemicu PHK yang paling utama adalah krisis global. Krisis keuangan di Amerika dan Eropa telah berdampak luar biasa terhadap dunia usaha di Indonesia, terutama perusahaan tekstil dan padat karya. Akibat krisis ini, kegiatan ekspor dan impor menjadi tersendat. Perusahaan tidak bisa melakukan ekspor karena Amerika dan Eropa yang selama ini menjadi pembeli (buyer) sudah tidak memesan atau membeli stok bahan atau hasil produksi di Indonesia.

Sedangkan impor terutama untuk bahan-bahan baku sulit dilakukan perusahaaan karena kurs rupiah terhadap nilai dolar AS selalu melemah. kondisi inilah yang memberatkan keuangan perusahaan, karena jika membeli bahan baku sedikit saja sudah membutuhkan nominal rupiah sekian banyak. Ada satu research yang dipresentasikan oleh ILO salah satu lembaga PBB yang menangani masalah perburuhan dunia, bahwa apabila penanganan dampak krisis global ini tidak kunjung stabil maka akan terjadi arus PHK masal sekitar 20 juta pada akhir 2009 di Indonesia.

SKB 4 menteri “hadiah” atau” petaka” bagi rakyat?

Upaya pemerintah Indonesia untuk menangkis akan adanya dampak arus krisis global diupayakan dengan meregulasikan SKB 4 menteri. SKB 4 menteri ditandatangani oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Intinya, SKB tersebut “membatasi kenaikan upah buruh, terutama di sektor padat karya, dan membiarkan mekanisme penetapan upah ditentukan oleh kehendak pasar. SKB tersebut disinyalir pemerintah guna mencegah kemungkinan terjadinya PHK besar-besaran.

Putusan 4 SKB itu berdasarkan aturan PER.16/MEN/X/2008, 49/2008, 922.1/M-IND/10/2008 dan 39/M-DAG/PER/10/2008 per tanggal 22 Oktober 2008. Nama SKB itu adalah ‘Pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global’.

Tujuan penerbitan SKB di sisi lain untuk mengantisipasi PHK yang berpotensi terjadi pada sektor usaha padat karya, seperti garmen, tekstil, elektronik, dan sepatu. Jadi dasar semangatnya seperti diungkapkan Menakertrans Erman Suparno saat mengumumkan SKB tersebut Sabtu kemarin adalah perusahaan-perusahaan tetap hidup dan pekerja tidak di PHK. Pemerintah resmi menerbitkan aturan baru mengenai upah minimum buruh. Penetapan upah tidak lagi melibatkan pemerintah tapi negosiasi langsung antara pengusaha dan buruh (bipartit). Pemberlakuan SKB selama ini belum diberi batas waktu sampai pemerintah menilai pengaruh krisis keuangan tidak membahayakan Indonesia.

Penolakan terhadap Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri terkait krisis global dan ketentuan upah minimun 2009 terus bergulir. Sejumlah buruh di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar yang menampung usaha di sektor perindustrian melakukan aksi turun ke jalan. Alasan yang kuat adalah sudah semakin terhimpitnya harapan hidup mereka akibat kebijakan pemerintah yang tidak fair dengan rakyat.

Regulasi SKB 4 menteri masih menjadi polemik di mata masyarakat terutama sangat terasa oleh para buruh yang hidupnya tidak bisa mandiri secara finansial karena tergantung kebijakan pemerintah yang menetapkan upah minimum kerja (UMK).

Dalam SKB tersebut disebutkan ke depan, bahwa penetapan upah buruh tidak lagi melibatkan pemerintah (tripartit), tapi negosiasi langsung antara pengusaha dan buruh (bipartit). Pelaku industri dan serikat pekerja sendirilah yang membahas dan menentukan lebih rinci sektor usaha mana yang bisa memberi kenaikan upah minimum di bawah angka pertumbuhan ekonomi nasional (3-5 persen) dan sektor mana yang bisa memberi kenaikan upah hingga 10-12 persen.

Ada satu pasal yang menjadi titik penekanan (Stressing point) di SKB tersebut yaitu pada Pasal 3, tertulis, “Gubernur dalam menetapkan upah minimum mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.” Artinya kenaikan upah minimum provinsi (UMP) tidak lebih dari 6 persen atau melebihi angka pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok sebesar 6 persen. Artinya, UMP akan berkisar antara 3-5 persen. Bila maksimum kenaikan 5 persen, maka khusus UMK Kota besar misalnya yang saat ini sebesar Rp 960.000 per bulan, hanya akan terjadi penambahan Rp 48 ribu. Sehingga upah buruh di kota tersebut setelah naik maksimal Rp 1.008.000 per bulan.

Dari beberapa rekayasa kebijakan sosial yang dibuat oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak krisis global dalam bentuk SKB ini diharapkan sudah ada point-point keputusan yang tidak memarginalkan rakyat, untuk selanjutnya direkomendasikan surat edaran kepada pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia.

Diantaranya: Pertama, Penetapan upah dirasa harus hati-hati dan tepat oleh pemerintah sehingga tidak menambah pukulan berat bagi pengusaha.Yang perlu diperhatikan yakni upaya pemerintah untuk menekan harga. Kurangi pungutan liar (pungli) dan panjangnya birokrasi.

Kedua, pemerintah harus lebih menggalakkan pengamanan pangsa pasar domestik dalam arus perdagangan global. contohnya, perhatian pemerintah untuk memberantas praktik penyelundupan atau perdagangan barang secara ilegal oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab pada situasi krisis seperti ini

Ketiga,. pemerintah harus melakukan Penghematan anggaran belanja Negara dalam posisi yang ideal dan transparan. APBN yang digulirkan pemerintah harus dalam prosentase dan sklala prioritas yang jelas bukan atas dasar subjektivitas kelompok tertentu.

Keempat, SKB 4 menteri ini jangan dijadikan sebagai bentuk contoh kurangnya sensitivitas pemeritah terhadap rakyat yang hanya melihat dalam satu sisi ujungnya program kapitalis yang berjalan saja._ SKB 4 mentri jangan dijadikan pandangan subjektif pemerintah untuk melindungi tenaga kerja dengan cara menjaga investor. Yang pada kenyataanya malah menempatkan buruh pada tempat yang lebih mudah ditindas para kapitalis proletar..

Kelima, menghentikan privatisasi terhadap seluruh perusahaan milik negara, dan mulai memperluas perusahaan layanan sosial, untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

Apabila beberapa point di atas dilaksanakan oleh pemerintah secara baik dan koorperatif dengan rakyat, maka terbitnya SKB 4 Menteri ini juga bisa dikatakan merupakan langkah bijak dari pemerintah yang bisa menjadi win-win solution bagi pengusaha dan pekerja. Para pengusaha dapat sedikit bernafas lega, karena tidak dikejar-kejar tuntutan untuk menaikkan UMK atau UMP oleh para pekerja yang melebihi kemampuan perusahaan. Para pekerja juga akan merasa lebih nyaman bekerja, karena kemungkinan terjadinya PHK di masa krisis perekonomian global ini menjadi lebih kecil. Tentunya masih ada harapan baru untuk bangkit dari krisis global.

Tema: Silver is the New Black. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.